Betting_Football betting app download_Blackjack bookmaker advantage

  • 时间:
  • 浏览:0

HOnOnline live casinoLine live cOnline live casinoasinoal ini sering terjadi ketika orang-orang di sekitar kita berada di satu dua langkah di depan kita, kalo artis ma wajar ya berada di seratus langkah di depan kita. Tapi ketika orang-orang di sekitar kita punya satu dua barang yang kita belum punya atau belum pernah ngerasain, kita jadi ngikuti iri contohnya iri teman kita kerja gajinya segitu, iri kebiasaan mereka bisa seunik itu, bisa travel ke sana ke mari, iri mereka punya motor, mobil, pesawat, kapal pesiar. Salam sukses.., Loh.

Nah, pernah nggak sih alih-alih kita sibuk di dalam rutinitas menggapai tuntutan mengalami momen di mana kita lewat di tempat yang nggak kita banget, nggak sesuai ekpektasi. Kesan untuk mewajarkan bahwa dunia itu beraneka ragam atau kesan untuk menghakimi kenapa lingkungan ini lebih jelek dari lingkungan tempat tinggal kita adalah 2 pikiran yang bebas kita pilih.

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Mungkin mereka orang-orang kecil dulu juga sama berekpektasi sama seperti kita dengan mimpi besarnya hingga akhirnya Tuhan memang mengarahkan mereka dan menempatkannya pada kehidupan yang sederhana. Mereka lebih menikmati kehidupan yang sederhana dari pada memikirkan rumitnya sesuatu yang besar. Di sana menggambarkan orang-orang sederhana saling bertemu, saling merasa nyaman hingga akhirnya membentuk lingkungan baru yang sesuai levelnya.

Semakin tinggi realita lingkungan akan semakin tinggi pula ekpektasi diri kita, anda dan saya. Percaya nggak ? Nggak sih. Oke selesai….. Kalo iya baca sampai bawah ya..

Kehidupan mereka cukup untuk memberi pengaruh bagaimana lingkungan followernya diciptakan. Kita jadi pengen ini dan itu, terus berkeinginan dan berharap seperti apa yang kita lihat. Memiliki mimpi seperti apa yang lingkungan tunjukan sangat dibolehkan kok, boleh difollow tetapi jangan sampai ada iri hati yang men-follow diri kita hingga akhirnya kita menfollow-back si iri hati.

Nah, akhirnya kita menuntut diri kita dengan menggebu untuk meraih ekpektasi secepat mungkin bukan karena kita butuh atau mencapai suatu nilai tertentu tetapi karena lingkungan punya dan kita follow iri, kita memenuhi ego dan terus memberikan tuntutan diri. Hal semacam ini menjadi wajar di jaman now dan terkadang cukup membuat lelah. Memang begini siklusnya, lingkungan berperan memberikan gambaran bagaimana kebiasaan hidup kita terbentuk. Membentuk sebuah rutinitas yang dipenuhi tuntutan.

Bagaimana rasanya setiap hari makan nasi, pete, ayam, buah terus susu (4 sehat 5 sempurna nih) tapi suatu ketika petenya ilang. Malahan cuma nasi sama ayam doang. Pasti rasanya beda dong? Emm biasa aja tuh. Biasa saja ya, oke berarti itu cuma perasaan penulis, lanjut ya serius nih.

Pastinya artis punya banyak follower ya karena mereka tenar dan terkadang jadi panutan. Sekali lagi terkadang, karena ada juga sih artis yang nggak pantes ditiru tapi followernya lebih banyak. Dan kita yang bukan artis ini memposisikan diri sebagai fans, bahkan ada yang fanatik ya ngga sih youraisaaaa?

Nah, hal inilah yang menciptakan perbedaan lingkungan satu dengan yang lain, pada level yang sama. Mungkin Kita hidup di tuntutan yang tiap hari harus makan ada sayur, lauk dan buah sedangkan mereka hidup di lingkungan yang mungkin cuma ada nasi dan lauk saja, mereka biasa sedangkan kita tidak biasa. Berarti apa yang salah dong…? Bukan diri kita yang salah. Tapi kebijakan untuk memilih pikiranlah yang salah. Terkadang kita perlu berpikir seperti orang kecil, berpikir seperti itu tidak sepenuhnya membantu meraih impian, tapi bisa memberikan warna untuk keluar dari kebiasaan monoton.

Inilah yang disebut dengan the power of habit. Anda dan saya hanyut oleh kebiasaan hidup karena lingkungan. Sebenarnya sekarang cakupannya menjadi lebih luas dengan adanya social media. Kita bisa lebih extend melihat sekitar ditambah lingkungan digital tergantung dari siapa yang kita follow.

Dengan melihat mereka tertawa, akan membuat kita merasa nyaman untuk menikmati proses kehidupan seperti mereka. Hal ini bisa melatih agar kita tidak tersudut oleh satu sudut pandang saja. Hal semacam ini perlu kita lakukan untuk melihat warna kehidupan lebih beraneka dan berpikir dunia tidak sekecil monoton rutinitas yang kita alami. Sekali-kali main ke pasar lebih baik daripada rutinitas main ke caffe, toko buku ataupun mall. Sekali dua kali naik bis dan ngobrol dengan penumpang sekitar mungkin lebih baik daripada sekadar mengandalkan motor pribadi untuk bepergian. Mungkin hal semacam itu dinilai tidak efektif tetapi dibalik ketidakefektifan itu kita akan menemukan sesuatu yang baru dan lebih bernilai jika memaknainya lebih positif.

Terkadang kita perlu loh untuk melihat hal-hal semacam ini dan berpikir mungkin Sang Pencipta memang sedang mengarahkan kita menuju ke arah lebih baik. Momen ini bisa jadi menggambarkan bahwa mereka orang kecil ternyata lebih bisa mengajarkan diri kita untuk lebih memaknai kehidupan daripada orang-orang besar di luar sana. Melihat mereka bisa tertawa dan bercanda di lingkungan sesederhana itu menuai pertanyaan apakah mereka tidak memiliki mimpi besar yang cukup merumitkan seperi kita?

Jadi begini ceritanya, kita tinggal di rumah, ya iyalah masa di hutan. Eh begini maksudnya kita setiap hari keluar rumah ketika berangkat kerja atau sekolah, melihat kiri dan kanan, tetangga, orang lewat dengan kebiasaan yang sesuai levelnya masing-masing, maksudnya level adalah bayangkan pastinya suasana perumahan orang berpenghasilan tinggi akan berbeda dengan orang berpenghasilan rendah.

Di balik tradisional dan manualnya pasar terkadang kita dipaksa untuk melihat momen di mana ibu-ibu penjual sayur/tukang becak merasa asyik saling bercanda dan tertawa satu sama lain sambil berjualan di saat yang sama kita sedang cemberut karena dipusingkan dengan banyaknya masalah demi memenuhi ekpektasi. Akhirnya terbesit suatu pertanyaan kenapa ya kita bisa merasa berbeda dengan mereka padahal kita dan mereka sama-sama manusia?

By the way pengalaman pernah suatu ketika penulis diajak sang ibu untuk mengantarnya belanja ke pasar tradisional, ini bukan penulis banget dan pikiran negatif berjalan berputar-putar memenuhi otak si penulis. Kenapa sih harus pasar tradisional? Awalnya sih terpaksa, pada akhirnya hal itu pudar ketika kita benar-benar bisa positif dan melihat lebih dekat.